Zikir adalah pangkal ketenangan dan kedamaian (QS.ar-Rad:28) . Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian (as-Salam). Maka untuk mencapai ketenangan dan kedamaian itu jalannya adalah dengan mendatangi sumbernya dan membersamakan diri dengan-Nya. Zikir itulah pembersamaan, sedangkan meninggalkan zikir sama dengan membuka keleluasaan bagi setan untuk menungganginya, menciptakan kepengapan hidup serta membutakan mata hati.
Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS.ar-Rad:28) . Karena itu ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah kamu kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku (QS.al-Baqarah: 152)
Zikir merupakan penawar untuk mengobati batin, pembersih batin, mensucikan batin, menggemukan batin dan yang paling penting membuka "Nur Qalbi" serta menghancurkan ketulan darah kotor yang bergayut di ujung jantung, yang dinamakan istana iblis.
Zikir akan menerangi seluruh hati kita dengan Cahaya Allah (Nurullah). Ini akan terjadi apabila kita sudah memperoleh apa yang dinamakan "Kenikmatan Zikir". Apabila batin kita sudah diselimuti zikrullah, maka batin kita akan cerah dan berfungsi baik, bagaikan gelap malam yang diterangi oleh bulan purnama. Orang yang mencerah pada zikir akan memperoleh mata batin (bashirun), telinga batin (sami'un). Dan atas izin Allah pada puncaknya para ahli zikir itu memperoleh sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh orang awam, mengetahui sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh anggota zahir. Misalnya mata batinnya dapat menangkap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biologisnya, telinga batinnya dapat menangkap sesuatu yang tidak terdengar oleh telinga biologisnya, dsb. Bahkan mereka dapat mendengar dan faham segala gerak-gerik alam, hewan, serangga, dan juga desiran daun, kayu, ombak, hembusan angin, dll-dsb. Dirinya dapat mengetahui sesuatu yang terjadi dan akan terjadi meskipun dia berada di alam tidur, seperti tarikh kematian dirinya.
Keistimewaan ahli zikir yang telah sampai ke peringkat itu masih banyak lagi, dia dapat bertahan lapar, haus, dan menahan rasa sakit dan penderitaan zahir lainnya. Tubuh mereka menjadi "kebal" dari rasa sakit dan pedih. Zikir itu sebenarnya menjadi penebal pada tubuh mereka.
Dalam al-Quran dikisahkan tujuh pemuda yang tertidur selama 309 tahun karena beramal kepada Allah di dalam gua Kahfi. Mereka adalah ahli zikir kelas satu (first class). Kalau diukur dengan logika, mustahil manusia bisa bertahan hidup selama itu tanpa makan dan minum. Menurut ilmu kedokteran, manusia hanya mampu bertahan hidup tanpa makan dan minum selama delapan hari saja, setelah itu dia akan mati.
Dari kisah itu membuktikan bahwa bila sampai ke suatu peringkat tertentu, zikir itu bisa mengenyangkan, bisa melapangkan hati. Caranya, bila kita asyik dan "zauq (mabuk ketuhanan), kita hanya akan ingat Tuhan saja, tanpa ingat yang lain, termasuk melupakan penderitaan zahir seperti lapar, haus, sakit, takut, cemas dan was-was.
Demikian juga dengan apa yang terjadi atas para Nabi dan Wali Allah. Mereka memperoleh keistimewaan dan kemuliaan karena mereka benar-benar menguasai "Zikir Ma'rifat". Nabi Ibrahim tidak terbakar walaupun dilempar kedalam api, Nabi Nuh selamat dari sunami dengan petunjuk Allah untuk membuat perahu diatas gunung.
Walau bagaimanapun juga tetap harus di ingat bahwa kita berzikir semata-mata ikhlas hanya megharap ridha Allah, untuk mengingat dan mendekat kepada-Nya. Bukan dengan tujuan selain itu misalnya mendapatkan keuntungan materi duniawi apalagi karomah seperti yang diberikan Allah kepada para wali dan Nabi-Nya.
Zikir yang dilakukan karena mengharap sesuatu, jelas amalan itu sudah tidak ikhlas lagi. Ia bagaikan ingin menangkap angin dengan sebuah wadah yang berlubang. Sia-sia saja hasilnya. Berzikirlah sebagai suatu bukti kecintaan kita kepada Allah. (Abu Sangkan)